Sunday, November 14, 2010

TUGAS 6 ISD


Apasih rasa yang ditimbulkan dari bermalas malasan dan kenapa kebanyakan manusia ( saya termasuk ) lebih senang bermalas – malasan ?

Ada banyak faktor faktor yang membuat malas yaitu lelah capai dan banyak lagi faktor yang membuat kita menjadi malas terutama apabila kita lagi banyak waktu luang tetapi banyak tugas yang harus dikerjakan, kebanyakan dari kita akan mengerjakan apabila tenggang waktu yang diberikan telah dedline atau “mepet”.

Salah satu kejadian bermalas malasan dibulan puasa yang panas , dihari biasa saja kadang timbul rasa malas apa lagi dibulan puasa yang memaksakan diri untuk bekerja dalam keadaan badan kurang fit karena tidak diisi makan maupun minum.


Bermalas malasan di bulan puasa :

Bulan suci puasa tentunya tetap bersemangat dalam melayani masyarakat khususnya di pemkot Yogya dan kinerja tidak boleh nenurun dan diharapkan jangan dijadikan puasa sebagai hal yang tidak produktif Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto menjelaskan, bulan Ramadhan tidak boleh menjadi alasan bagi pegawai di lingkungan Pemkot Yogyakarta untuk bermalas-malasan.

Heri pun mengancam akan memberikan sanksi kepada anak buah yang tidak menunjukkan kinerja maksimal dalam memberikan pelayanan publik pada bulan puasa.

"Puasa jangan dijadikan alasan kepada siapa pun untuk bermalas-malasan. Akan tetapi, puasa seharusnya bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan etos kerja sambil menyempurnakan pahala ibadah puasa yang sedang dilakukan,ungkapnya


Sanksi tersebut akan diberikan sebagaimana diatur dalam PP No 30/1980 tentang Kedisiplinan PNS bahwa setiap pegawai negeri harus disiplin, yakni disiplin dalam ucapan, tulisan, dan perbuatan, baik di dalam maupun di luar jam kerja.

Meski terdapat pengurangan jam kerja, pegawai harus bekerja seperti biasa dan suasana kerja pun menurutnya juga jangan sampai harus diistimewakan. "Kalau puasa boleh macem-macem, ya kalau perlu puasanya setahun sekalian. Saya ingin puasa lalu menjadi excuse (pengecualian). Dinas ketertiban justru harus lebih aktif melakukan pengawasan," tegasnya. (tri)

Sumber : http://ramanews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1413:heri--puasa-jangan-jadi-alasan-bermalas-malasan&catid=35:ramanews&Itemid=69


Dan dalam kehidupan sehari hari yang sering kita saksikan adalah pada saat pemilu presiden maupun pilkada kebanyakan dari masyarakat untuk memilih golput dari pada untuk datang ke TPS memilih siapa yang akan mempin mereka dalam pemerintahannya.


Mengapa orang malas memilih?

Semasa  saya duduk di SD, SMP, SMA, selama jadi mahasiswa dan jadi dosen dan pengusaha,  orang yang bicara bebas di Indonesia dianggap pemberani.  Itulah  negara  totaliter dibawah Sukarno dan Suharto. Tidak terbayangkan, di tahun 1999 setelah Pemilihan Umum, suatu malam diluar kota Chicago (kebetulan sedang berkunjung) saya mendengar di radio mobil, suara penyiar yang setengah teriak: “Indonesia is now the third largest democracy in the world!”

Bangga betul rasanya. Negara yang memenjarakan puluhan ribu tawanan politik, membantai penentang pemerintah  beberapa kali dengan pembunuhan gelap, kok bisa diakui sebagai  demokrasi besar di dunia, hanya dibawah India dan Amerika Serikat. Sampai sekarang orang memuji terus, dari Eropah sampai Asia, dari Australia sampai Afrika. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan di Jakarta bulan lalu Indonesia mengagumkan karena mampu menggulingkan rezim totaliter dengan kekuatan sendiri, dan memulai suatu demokrasi.
ngga milih, pasti kalah dong
Tapi baru sepuluh tahun berdemokrasi , orang sudah malas menanggapi Pemilu. Apakah orang Indonesia tidak suka pada demokrasi? Tanpa pretensi ilmiah, saya mengumpulkan pendapat orang biasa melalui email,  ngobrol, dan pasang status update  di facebook. Silakan lihat disini: facebook.com/profile.php?id=634930347

Yang paling mirip dengan pendapat saya justru seorang rekan muda belia, Melda Wita namanya. Melda menyatakan  ” bisa hidup di negara yang menjunjung pluralism tinggi... biar berbeda-beda tapi kita tetap satu jua..bisa bebas mengutarakan pendapat... hehehe terus bisa menikmati makanan2 dari berbagai daerah yang super sedap.... misalnya saksang dan ikan arsik dari medan.. ada lagi sate padang.. wah.” 

Indonesia memang tidak punya apa-apa kecuali demokrasi, kontras dengan negara tetangga yang punya semua kecuali kebebasan.  Tapi hanya sedikit yang menyatakan pendapat positif. Yang lain penuh keluhan,  bisa dikumpulkan dalam kelompok ,

Yang mengeluhkan soal teknis:
  • malas karena ngga dapat undangan untuk hadir di TPS, ngga dapat kartu pemilih, dan harus mengecek sendiri namanya di DPT pada PPS Kelurahan terdekat...
  • pengalaman saya dari 1999 sampe 2004 dan pilkada DKI 2008 lalu, banyak pemilih yang data di kartu dan KTP nya salah.. ngga usah jauh-jauh, semua anggota KPPS di TPS saya ngga ada yang benar data di kartu pemilih nya...
  • ngga dapat undangan untuk milih, khan bingung mau milih di TPS mana, soalnya di undangan tercantum alamat lokasi TPS...bakal malas mondar-mandir tuh warga yang rata-rata sudah berumur...

Yang menunjukkan sikap cuek:
  • Golput..here i come!!!!??
  • Terlalu malas untuk memilih n tidak peduli:D
  • GP...emang gue pikirin....siapa pun calegnya....siapapun presidennya....aku tetap orang Endonesa......:)

Yang skeptis mengenai teknik kampanye:
  • tidak ada kampanye yg cerdas, transparan, dan detail - bukan hanya sekedar kontes popularitas dengan arak2an di jalan raya
  • Komunikasi visual lewat posternya aja berantakan, apalagi komunikasi politiknya ????

Yang curiga pada semua caleg dari dulu sampai sekarang sampai masa depan:
  • Calonnya itu2 aja...
  • dari sejak punya hak pilih dulu gak percaya sama outcome pemilu legislatif ...
  • Calonnya gak jelas asal muasalnya
  • Yg pintar blm tentu kuat, yg kuat blm tentu pintar..yg pintar dan kuat blm tentu membawa peruntungan untuk masyarakat dan negara.... Jd hrs org yg pintar, kuat dan hoki.....
  • pd oooommmdoooo alias omong doang gak ad hasilny, krjny ngabis2in dwt doang.
  • Bingung yg mana yg bisa buat perubahan..
  • I know nobody bang WW !!

Ada teman-teman yang berkomentar lebih panjang dan lebih bernuansa:

“Rata2 para caleg itu seragam, ngga bisa dibedain kecuali foto. We don't know what they stand for, ngga jelas apa agendanya. mereka tidak/kurang berkomunikasi dengan pemilih, hanya melalui gambar wajah yang dipampang di baliho jalan. Untuk pemilih kita tidak punya dasar untuk memilih si A, B, C (kecuali kenal kali ya). Nah, ada caleg Dapil Jaksel yang pernah tampil di media (elektronik) karena ada kesempatan, ditanya ‘kenapa mau jadi caleg?’ Jawabnya,  ‘karena saya melihat rakyat susah dan ingin membantu memajukan kesejahteraan rakyat.’ Then what? how? Apa yang akan anda lakukan jika anda terpilih untuk duduk menjadi anggota dewan? Dijawab : ‘saya tidak ingin banyak bicara, saya hanya ingin bekerja dan tidak sekedar mengobral janji. ………  Cape deh!”

 “Pemilih butuh tahu, yang dipilih butuh kepercayaan. Orang gak tahu gimana mau percaya.  Yang kampanye gak ngerti apa yg diomongin. Ngomong ekonomi, tp yg diomongin normatif, gak kongkrit, dodol tp sok ngerti. Hancur negara kalo masih banyak yg kayak begitu.  Kampanye kok pake symbol pemimpin massa, entah mantan presiden yg sudah mati, atau presiden gagal, tp dipasang di balihonya dia. Gak pede? Gimana mimpin nanti, kalo gk pede nanti ngikut juga korup kyk pendahulunya. Capek sm orang2 yg dipilih melalui seleksi partai politik, mayoritas gak jujur, suap sana, suap sini biar dapat nomor urut jadi. Walau sudah ada putusan MK, toh gak bakal banyak pengaruh. Ogah milih koruptor2 baru! “
Kecewa terhadap hasil demokrasi (yang baru sepuluh tahun), tapi belum tentu kecewa terhadap demokrasi itu sendiri. Analisa tajam  seorang  eksekutif  PR menyorot  parpol:
“Banyak pemilih yang pernah dikecewakan partai yang pernah dipilihnya dan tidak ada usaha dari partai-partai politik untuk membersihkan diri dari dosa-dosa politik atau upaya nyata untuk memperbaiki institusi parpol.  Jika ada anggota partai yang ditangkap korupsi, buru-buru ada pengumuman anggota tersebut dipecat dan tidak ada pertanggungjawaban sama sekali dari Partai yang telah merugikan rakyat tersebut. Parpol sama sekali tidak merasakan rendahnya penghargaan rakyat kepada citra dewan legislatif dan parpol di dalamnya. Tidak pernah sekalipun citra positif profesionalitas, kredibiltas dan keberpihakan pada rakyat melekat pada parpol dan dewan legislatif.  Premanisme, korupsi dan kepentingan parpol semata yang selama ini dilihat orang biasa pada calon-calon yang akan dipilihnya. Perception is Reality.  Selama tidak ada upaya nyata dari para elit politik untuk mengubah citranya, sampai kapanpun orang biasa akan tetap malas memilih.”

Semua kecewa dengan hasil demokrasi. Tapi mengasingkan diri juga bukan jawaban, sebab elite hanya bisa dikoreksi dari masyarakat, kecuali kalau kita mengundang  diktator Indonesia ketiga, Mungkin ini yang diinginkan  Atmo Prawiro Yahya Hutauruk, menyambung statement beliau bahwa Indonesia belum siap untuk memilih sendiri pemimpinnya, melihat banyaknya keluhan terhadap Pemilu.

 " Menurut pendapat saya, pimpinan saat ini jangan melalui pemilihan dulu, krn masyarakat, aturan main dan fasilitas utk melakukan pemilihan belum memenuhi persyaratan. Utk itu hrs ditunjuk Care Taker, saat ini yg mumpuni menurut saya hanya dari TNI. Ingat cita2 kemerdekaan dulu sdh terlalu jauh ditinggalkan para pimpinan saat ini. Saya kira masih banyak TNI Nasionalis yg bermoral.... Krn bangsa kita bangsa yg kekanak2an, maka perlu diawasi oleh TNI...”

Apakah pendapat seperti Pak Hutauruk itu mewakili Golput?  Mudah-mudahan tidak. Bagi saya, lebih pas kalimat Andri Sudibyo yang diberikan  di facebook sebagai kalimat  penutup.
Demokrasi tidak selalu menghasilkan pemerintahan dan parlemen yg baik, namun perlu diingat demokrasi merupakan suara rakyat yamg bisa saja merupakan suara keadilan. Jadi ikutlah Pemilu dan mari berharap bangsa ini semakin pandai dan semakin bisa memilih yg baik.



Dalam kutipan diatas kita mempelajari bahwa kesalahan dalam kutipan ini sebenarnya ada di dalam diri setiap mausia itu juga karena seharusnya kita sebagai manusia memiliki nilai nilai social yang tinggi , dan peduli akan kehidupan bermasyarakat kedepannya.

“Apakah masyarakat kita akan maju atau masyarakat kita akan tetap menjadi masyarakat yang EGP emang gue pikirin yang pentung gue orang endonesia”

Tetapi dalam kemalasan bisa kita kelola bila kita ingin menjadikannya sesuatu yang positif seperti artikel yang dibahas dibawah ini :

  

MENGELOLA MALAS KERJA


Lho kok malas kerja dikelola? Maksudnya apakah malas kerja itu perlu dikembangkan? Tidak juga. Sama halnya dengan stres dan marah yang semuanya bernuansa negatif maka malas pun perlu dikelola. Tujuannya adalah agar malas kerja tidak berkembang sebagai perilaku destruktif buat diri sendiri maupun orang lain dan organisasi. Selain itu agar seseorang yang memiliki rasa malas mampu mengatasi dirinya sendiri. Malas yang berkepanjangan akan mencerminkan orang tersebut tidak memandang bahwa kerja produktif sebagai suatu kebutuhannya.

Aktifitas seseorang berkait dengan derajad bioritmenya. Bioritme seseorang pada dasarnya menggambarkan fluktuasi kegiatannya yang  dipengaruhi oleh siklus fisik-biologis, emosional, dan intelektualnya. Seseorang  dapat memperbaiki mutu hidupnya dengan memantau naik turun siklusnya. Kemudian  melakukan penyesuaian-penyesuian diri dengan siklus tersebut. Sebagai contoh ketika seseorang akan ujian maka penggunaan kadar intelektualnya akan tinggi, sementara ketika kadar emosionalnya sedang rendah maka dia akan menghindari berbicara terlalu banyak dengan orang lain, dan akan meningkatkan kinerjanya ketika kondisi fisiknya sedang sangat prima.

Malas kerja adalah perilaku seseorang yang merupakan buah dari proses fluktuasi kadar bioritmenya. Berarti ketika itu kadar fisik, emosional, dan bahkan intelektualnya sedang rendah. Jadi kemalasan bukanlah suatu fenomena yang aneh. Tiap orang sangat potensial memiliki rasa malas. Ia bisa terjadi pada siapapun. Yang membedakan hanyalah derajadnya saja; ada yang rendah namun ada yang kebangetan tingginya atau rasa malas yang akut. Karena itu dalam teori motivasi misalnya dikenal ada teori X dimana seseorang tidak punya gairah kerja sama sekali atau malas. Orang seperti itu termasuk golongan karyawan yang mementingkan dirinya sendiri sekaligus tak bertanggung jawab.

Dalam prakteknya kemalasan kerja dari seseorang disebabkan beragam faktor. Bisa karena faktor inrinsik dan bisa faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik penyebab malas yang paling sering terjadi adalah rasa bosan hingga jenuh terhadap pekerjaan tertentu. Tak ada variasi pekerjaan atau serba monoton. Kalau toh pekerjaan itu tetap dilakukan produktifitasnya bakal rendah. Selain itu kalau kondisi fisik sangat lelah termasuk sedang sakit cenderung timbul rasa malas. Ketika itu rasa malas kerja menjadi-jadi. Inginnya istirahat saja termasuk tidur. Kemudian kalau keadaan mental atau emosi sedang gundah maka kemalasan kerja juga akan muncul. Termasuk didalamnya rasa pesimis dan apatis terhadap manfaat suatu pekerjaan. Bisa saja terus menyendiri diam di kamar. Bagaimana dengan faktor ekstrinsik?

Faktor ekstrinsik penyebab malas antara lain adalah beban kerja yang relatif berat hingga di atas standar kerja. Semakin tinggi beban semakin lelah fisik yang dirasakan dan pada gilirannya timbul rasa malas untuk melanjutkan pekerjaan. Selain itu suasana lingkungan kerja yang kurang ramah. Para karyawan bisa timbul enggan atau malas bekerja karena interaksi sosial mengalami stagnasi. Apalagi kalau sering terjadi konflik horisontal dan vertikal dalam proses pekerjaan. Sepertinya tidak ada tempat untuk cur-hat yang memadai. Sementara itu infrastruktur ke tempat pekerjaan yang tidak lancar bisa juga menimbulkan malas kerja. Bahkan bukan saja rasa malas tetapi juga stres melihat kesemerawutan lalulintas.

Lalu apa yang harus dilakukan dalam mengelola atau mengatasi kemalasan kerja ini? Dalam konteks pekerjaan oleh suatu tim, hendaknya para manajer melakukan pemantauan rutin terhadap kedisiplinan kerja karyawannya. Seharusnya diketahui faktor-faktor apa yang menyebabkan karyawan malas kerja. Harus bisa teridentifikasi mana karyawan yang memiliki kemalasan nyata atau terlihat dan mana yang tersembunyi. Kalau yang terlihat bisa dikategorikan kemalasan masuk kerja, kemalasan kerja nyata  atau cepat pulang kerja. Sementara kemalasan tersembunyi dicirikan kinerja yang rendah atau di bawah standar walau jam kerjanya normal. Ini berarti selama jam kerja yang bersangkutan tidak serius bekerja. Dalam keadaan seperti itu manajer perlu terus melakukan bimbingan kerja dan bimbingan kedisiplinan kerja. Dianggap perlu ada peringatan keras sampai ancaman kalau selama bimbingan tidak ada perubahan perilaku malas kerja. Sebaliknya kalau terjadi perubahan maka manajer perlu memberikan penghargaan kepada karyawan yang kembali rajin bekerja; bisa dalam bentuk penghargaan promosi dan  bisa berupa pengumuman tentang karyawan teladan.

Apa yang harus dilakukan oleh karyawan sendiri? Yang pertama adalah melakukan evaluasi diri mengapa yang bersangkutan malas kerja. Kalau malas lalu apa yang akan dikerjakan dan apa manfaatnya. Tentu saja dievaluasi apa  manfaat buat dirinya dan perusahaan. Setelah berpikir mendalam dan ternyata lebih banyak kerugiannya maka perbaikilah sifat malas kerja menjadi sifat disiplin kerja. Kedua, kalau kemalasan timbul karena rasa bosan kerja maka hubungilah manajer. Katakan terus terang dan mintalah dilakukan rotasi atau mutasi kerja. Atau mintalah pekerjaan yang lebih menantang. Ketiga, sebaiknya melakukan olahraga teratur agar peredaran darah lancar. Kalau tidak lancar maka peredaran oksigen ke otak juga bisa terhambat. Ketika itu terjadi maka yang bersangkutan bisa cepat merasa ngantuk dan pusing yang ujungnya timbul kemalasan bekerja. Keempat, meningkatkan hubungan serekan kerja dan bersenang-senanglah ketika sebelum kerja dan saat waktu istirahat. Jangan kikir untuk berhumor ria dan  tertawa bersama rekan kerja. Ini bermanfaat untuk memperkecil kepenatan kerja.

Diharapkan dengan mengelola kemalasan kerja, pihak karyawan sekaligus perusahaan akan mampu meningkatkan kinerjanya. Namun untuk itu diperlukan syarat-syarat  dimana (1) karyawan bersangkutan harus memahami dan memiliki kesadaran tentang kerugian dari perilaku malas kerja dan (2) karyawan seharusnya siap untuk mau merubah perilaku malasnya. Program apapun untuk mengelola atau mengatasi  kemalasan kerja di kalangan karyawan bakal percuma  kalau kedua syarat  itu tidak terpenuhi.



Jadi dalam kehidupan ini kita sendirilah sebagai manusia yang menentukan apa yang ingin kita lakukan ?? , bermalas malas ria atau mengelola kemalasan itu menjadi sesuatu yang positif sehingga memacu diri kita menjadi lebih baik dan baik lagi untuk menjalani kehidupan ini.

Saya pun sebagai penulis mengakui lebih sering bermalas malasan , semoga dengan adanya artikel ini bisa memacu saya agar tidak bermalas malasan lagi dan menjadi orang yang lebih baik lagi . Aminn ...

Kalaupun ada saran maupun kritikan yang membangun tolong di share aja , thx before .



No comments:

Post a Comment